Underground Hari Ini


Bukan lagi rahasia dan hal tabu kalau kultur musik underground menjadi jualan seperti halnya kultur serta souvenir-souvenir masyarakat adat. Ini mungkin karena ketololan oknum-oknum dalam kultur musik underground, yang karena kebodohannya akhirnya melihat kenyataan pahit kalau mereka mau tidak mau harus menjilat bokong para pebisnis kebudayaan dan pebisnis intelektualisme.


Mereka terlalu terbuai dengan slogan-slogan perlawanan tanpa pernah memikirkan kemungkinan terburuk, yaitu menjadi orang-orang kalah. Ruang kompromi akhirnya begitu longgar demi gemerlap lampu sorot panggung-panggung musik spektakuler yang menjadi indikator karir bermusik.

Bagi mereka, orang-orang yang tetap melihat pentingnya menjaga spirit DIY dalam kultur musik underground adalah orang-orang naif yang tak pandai beradaptasi dengan keadaan. Oknum-oknum kompromistis ini kemudian menjadi alibi bagi para pengikut serta mereka yang memiliki kelemahan intelektual (atau memang tak memiliki intelektual bahkan dalam kadar 5%) untuk membebek dalam barisan para oportunis penjilat popularitas.

Tak ada salahnya menjadi orang-orang kompromistis atau oportunis, hanya saja sungguh sangat memuakkan ketika mereka masih saja meneriakkan slogan-slogan perlawanan yang tak lagi bisa dibedakan apakah ini persoalan cari duit atau mendorong para followers mereka untuk tetap mencoba melawan dan jangan mengikuti langkah bodoh yang mereka lakukan.

Untuk mereka yang menampilkan kelemahan syahwat perlawanan karena faktor usia yang menuntut untuk lebih banyak bersantai dalam fantasi-fantasi rekreasi melepas lelah tak perlu lagi dibahas karena mereka hanya pantas dimaklumi seperti memaklumi orang-orang tua jompo.

Kembali ke persoalan jual menjual kultur musik underground.

Jika mereka-mereka yang merasa diri bagian dari kultur musik underground tak merasa terganggu dengan aktifitas bisnis jual menjual kultur musik underground maka tak ada hak bagi mereka yang berada di luar kultur musik underground untuk marah.

Tapi mereka yang di luar kultur underground bisa menjual dan banyak bicara karena mereka tak tahu apa-apa kecuali nilai bisnis dari pertunjukan underground.

Sekarang tinggal menunggu apakah masih ada orang naif dalam kultur musik underground yang ingin meludahi muka mereka-mereka yang kompromistis dan oportunis itu dan kembali meneriakkan slogan perlawan dengan penuh kejujuran dan kemarahan?

Ataukah memang tak ada lagi orang yang percaya bahwa slogan perlawan dalam kultur musik underground bukan sekedar slogan tak berotak orang-orang yang hanya merindukan sorotan lampu di panggung-panggung musik spektakuler yang tak lebih dari catwalk model anjing-anjing cantik peliharan masyarakat bodoh yang merasa dirinya sangat pintar dalam kebudayaan rekayasa korporasi.

Comments

Popular Posts