Menjual Diri Sendiri [Bagian I]


Teks ini adalah terjemahan salah satu artikel dalam zine Inside Front yang terbit di tahun 1996. Meski telah 23 tahun berlalu, teks ini sungguh-sungguh masih sangat relevan dengan kondisi skena, skenyong, sngenek (atau apapun istilahnya) hc/punk hari ini, khususnya di kota Makassar, di mana penerjemah keluyuran setiap harinya. 

Sebab (mungkin) hanya di Makassar pula ada banyak bertaburan band-band hardcore yang selalu tersemat kata "Front", entah kekurangan perbendaharaan kata dalam memilih nama band atau memang terlalu bodoh untuk sekedar menginterpretasi ragam musik hardcore sehingga terjebak dalam membuat nama band hardcore, ya, mestilah tercantum kata "Front".

Dan (mungkin) hanya di kota ini pula kamu bisa melihat betapa sebuah band yang konon begitu hardcore (sebut saja Front Side) celakanya mereka pulalah yang paling aktif terlibat langsung dalam menggelar festival tahunan paling komersil dan paling pandai menghisap (sebut saja Rock in Celebes) serta mengekploitasi band-band dari komunitas hc/punk yang katanya dalam rangka memajukan scene yang tentu saja dengan iming-iming ketenaran yang sayangnya tak akan pernah mereka raih lantaran pada dasarnya musik mereka yang sungguh biasa-biasa saja. 

Toh, saya bisa menuliskan dan punya sederet daftar band yang sangat menyerupai dengan corak musik mereka, dalam semua aspek musikal, tapi sayangya waktu saya jauh lebih berharga hanya untuk mendengar dan merunut segala macam keseragaman mereka dalam mencipta musik.

Oke, sudah. Langsung ke artikelnya saja. Selamat membaca.

Sumber Foto: Rockfort Makassar 

Coba lihat komunitas hc/punk, dari luar—apa yang kamu lihat? Simbol yang paling kelihatan dari eksistensi kami, selain band-band yang main di basement atau ruang terbuka sewaan, adalah ‘zine-zine dan rekaman yang kita jual. Dan coba buka ‘zine apapun dari semua ‘zine-zine itu, dan kau akan lihat iklan perihal ‘zine-zine lainnya, rekaman lainnya, serta produk-produk lainnya. Faktanya, selain iklan-iklan tersebut, apa yang paling sering dibahas oleh ‘zine-zine tersebut? Review rekaman, review ‘zine, sepuluh daftar paling top yang berhubungan dengan produk-produk yang mesti dibeli atau dijual. Foto-foto band-band hc/punk yang jumpalitan ke sana sini dan orang-orang yang berteriak tanpa kecuali dengan style dan dandanan tertentu (kaos band, tatoo, dan lain-lain), yang mengindikasikan kalau dandanan mereka, yang tentu saja sangat tidak murah, adalah bagian yang intrinsik kalau ingin terlibat dalam hc/punk. 

Dan ketika kamu semakin jauh terlibat ke dalam hc/punk, kamu mulai menyadari kalau benar-benar hanya sedikit waktu yang kau habiskan dalam membeli dan menjual produk-produk. Maka kamu pun mulai mendatangi lebih banyak gigs dan membeli rekaman dan ‘zine-zine yang kamu dengar dari teman. Kamu beli lebih banyak kaos band dan mungkin belanja beberapa pakaian, piercing, atau tatoo-tatoo yang serupa dengan salah satu milik teman dalam komunitasmu. Kamu pun mulai membuat sebuah ‘zine milikmu sendiri, dan mulai khawatir bagaimana cara menggandakannya, dan tentu saja—bagaimana cara menjualnya!

Kamu mulai bikin band, lalu berpikir membuat demo dan khawatir bagaimana menjualnya, bagaimana caranya membeli peralatan baru dan bisa dibayar buat manggung; kamu memulai rantai distribusi, dan memikirkan bagaimana cara menjual semua hal yang telah kamu tata sebaik mungkin; kamu pun mulai membuat label rekaman, dan kamu pun khawatir perihal menjual rekaman, membayar iklan, menjual lebih banyak rekaman, lagi dan lagi menjual dan membeli.

Salah satu hal paling utama untuk mengidentifikasi seseorang yang terlibat dalam dunia hc/punk adalah rekaman dan ‘zine-zine yang dia beli; dan orang yang terlibat secara mendalam biasanya menghabiskan lebih banyak waktu memikirkan ekonomi—khawatir dengan uang, mempromosikan produk-produk mereka, dan khawatir dengan penjualan dan profit, sekarang kebanyakan proyek-proyek yang kita garap melalui hc/punk lebih menyerupai bisnis perusahaan. Itu dia masalahnya: kebanyakan proyek-proyek yang kita garap dalam komunitas hc/punk sekarang sangat menyerupai bisnis perusahaan.

Tentu saja kita mesti menjual barang-barang agar barang tersebut tersedia dan bisa dibagi satu sama lain, hidup sebagaimana yang kita lakukan dalam sistem kapitalis di mana sangat sulit untuk memeroleh sesuatu secara gratis. Tapi jika ini masalahnya, kita masih harus menyadari efek dari cara kita menjalankan bisnis, dan juga mengusahakan alternatif agar kita tidak terjebak hanya dalam satu bentuk interaksi. Dan apabila kita benar-benar tertarik untuk mentransformasikan hidup kita secara fundamental, dibanding hanya sekedar menjadi gerakan subkultur anak muda ke sekian, menjual dan membeli produk mestinya memainkan peran yang sangat kecil dalam komunitas dibanding sebelumnya. 

Sudah sangat jelas terlihat bagaimana eksploitasi korporasi terhadap subkultur hippy, subkultur punk, dan ratusan subkultur atau komunitas anak muda lainnya yang fokus utama mereka hanyalah memproduksi jualan dan citra akan rentan untuk diambil alih oleh korporat. Kita tak bisa mengalahkan “para korporat” dengan menggunakan aturan main mereka. Lagipula, ada begitu banyak jenis interaksi yang patut dicoba, yang mungkin lebih baik bagi kita semua.

BECAUSE SELLING THINGS IS NOT “PROGRESS”

Pertama-tama, dan yang paling penting, kita harus ingat bahwa menjual produk tidaklah menyelesaikan apa-apa. Hanya karena tahun ini lebih banyak orang yang membeli album hc/punk dibanding sebelumnya hal itu tidak berarti gagasan dalam album hc/punk tersebut memengaruhi lebih banyak orang dengan cara yang sebenarnya. Bahkan, beberapa metode promosi dan distribusi yang berfungsi dalam meningkatkan penjualan juga malah berfungsi dalam mengalihkan perhatian (baik perhatian label rekaman juga perhatian pembeli) atas ide-ide yang ada dalam album rekaman tersebut, seperti yang akan kita bahas selanjutnya. 

Membeli dan menjual barang dan jasa adalah fondasi ekonomi Amerika dan Eropa, makanya hal itu sepertinya menjadi fokus utama kehidupan kita. Kita menghabiskan sebagian waktu bangun tidur dan sebagian besar energi kita ke dalam karir, dan nyaris semua karir yang ada berhubungan dengan menjual barang atau jasa, atau mempromosikan penjualan tersebut, dan lain-lain. Bagian mananya yang menjebak kita?

Perusahaan-perusahaan yang menjual produk paling tidak berguna, seperti Coca Cola, mencapai penjualan terbesar, karena mereka mampu mengeluarkan banyak uang untuk belanja iklan dan mempromosikan produk-produk mereka yang tidak berguna. Sejumlah perusahaan-perusahaan besar menghancurkan lingkungan (McDonalds, Exxon, dll.) dan hewan-hewan (industri susu dan daging), membiayai penindasan terhadap manusia (Pepsi, dll.), mempromosikan produk-produk yang menghancurkan manusia (industri tembakau, dll.), menganiaya dan membayar pekerja mereka dengan upah yang sangat rendah (Nike dan hampir semua perusahaan lain)--semuanya atas nama profit, sebab profit adalah tujuan utama dalam model ekonomi semacam ini.

Perusahaan-perusahaan yang tidak akan menjual produk sekejam perusahaan lainnya, yang tidak akan menerjang apapun di jalur mereka guna meningkatkan penjualan, jadi tersingkir, sementara perusahaan-perusahaan yang bertindak dengan sangat sedikit perhatian terhadap dunia dalam penjualan mereka datang mendominasi ekonomi (dan dengan demikian dunia) saat “menjual barang” adalah fokus utama. Masyarakat kita menjadikan “menjual barang” sebagai tujuan bukan sebagai sarana, kita hidup di dunia yang kacau balau dengan ribuan cara yang berbeda.

Apakah kita benar-benar ingin bercermin ke masyarakat arus utama dalam komunitas kita sendiri dengan berkonsentrasi pada pola interaksi ekonomi yang serupa? Jika kita tidak berhati-hati, sepertinya bukanlah hal yang mustahil apabila efek sistem dominasi terhadap masyarakat arus utama akan terjadi pula dalam komunitas hc/punk. Dengan kata lain — sejumlah label dan pihak yang berorientasi bisnis di scene hc/punk, yang setidaknya hanya memperdulikan soal nilai serta efek yang muncul dari hasil penjualan produk-produk mereka, dapat saja menjadi pihak yang berkuasa dan berpengaruh di dalam scene dimana penjualan produk menjadi fokus utamanya… Karena meskipun terdapat sejumlah label lain yang lebih mementingkan cara mereka menjalankan bisnis, mereka tetap tidak akan mampu bersaing dengan cara pemasaran dan kecerdasan bisnis yang dijalankan oleh para pesaing mereka yang kejam itu.

Kemudian, meski terdapat sejumlah orang yang masih peduli soal isu-isu seperti konsumerisme dan lebih memilih untuk mendukung sejumlah label yang jauh lebih independen/tidak dimotivasi oleh profit, namun label-label yang lebih mudah terlihat adalah justru label-label yang berkonsentrasi pada penjualan semata.     

Pada kenyataannya, jika kamu melihat kondisi hc/punk saat ini, maka tidaklah sulit untuk melihat bahwa seperti itulah kondisi yang terjadi sekarang ini.

- Bersambung

Comments

Popular Posts